.
Tersirat makna mu dalam buih peluh malam di jalan
jalan yang tak bertepi
kau tundukkan kepalaku menghisap rasa malu
yang dulu kau tulis pada sehelai kain warna putih
dan aku sadar sekarang
betapa roda ini telah menggilas ku
hingga aku tergagap , mati suri !
Tak berhenti, sampai kapan ?
atau harus menelanjangi wajah ku di tepi danau
agar nampak olehmu guratan-guratan aurat ku
mematil sirip-sirip duyung
Oh Jiwa
kemana engkau kini menepi
telah kucari engkau hingga waktu tak lagi berharga
hingga akar tak lagi menjalar
agar hutang-hutang ku pada mu terbayar
Aku ingin maaf mu
sebab tak pernah memberi Sarapan Rohani.
Depok 5/11/10 pukul 5.30 pagi
Asr. Divif 1 Kostrad
Tersirat makna mu dalam buih peluh malam di jalan
jalan yang tak bertepi
kau tundukkan kepalaku menghisap rasa malu
yang dulu kau tulis pada sehelai kain warna putih
dan aku sadar sekarang
betapa roda ini telah menggilas ku
hingga aku tergagap , mati suri !
Tak berhenti, sampai kapan ?
atau harus menelanjangi wajah ku di tepi danau
agar nampak olehmu guratan-guratan aurat ku
mematil sirip-sirip duyung
Oh Jiwa
kemana engkau kini menepi
telah kucari engkau hingga waktu tak lagi berharga
hingga akar tak lagi menjalar
agar hutang-hutang ku pada mu terbayar
Aku ingin maaf mu
sebab tak pernah memberi Sarapan Rohani.
Depok 5/11/10 pukul 5.30 pagi
Asr. Divif 1 Kostrad