Kisah tentang aku, buah hati ku dan kelakuan ibu nya....Aku tiba saat mentari mulai menampakkan wajahnya di Timur bumi, adzhan subuh baru saja berkumandang, bangunkan insan yang terbuai dalam mimpi-mimpi indah duniawi. Hampir tak ku kenali lagi kota ku ini, sebab tanah yang dulu tempatku bermain kelereng, lompat tali, bermain egrang dan petak umpet telah berdiri bangunan megah laksana raksasa diantara ribuan para kurcaci.
Aku angkat ransel militer ku yang kusut, kusandarkan di punggung ku yang letih setelah semalaman bersandar pada kursi bus yang telah keropos. Angin bertiup pelan, namun tak seperti ayunan langkahku yang kencang untuk segera bertemu Ayah, Ibu dan Sang buah hati, sebab enam tahun sudah aku tak menatap wajah ibu dan bapak, apalagi menciumi jemarinya. Sedang sepuluh bulan sudah aku tak mendekap tubuh mungil si buah hati.
Dibalik pintu warna biru tua, terlihat seorang wanita paruh baya berdiri dengan senyum indah di kedua bibir yang telah mengkerut, namun menyiratkan bahwa dulu beliau adalah seorang wanita yang cantik jelita. Beliau adalah ibuku, ibu yang telah membesarkan aku dengan kasih sayang dan dialah yang memberiku susu dari darah dagingnya hingga aku bisa seperti sekarang ini.
"Assalamu'alaikum, Ibu"
"Wa'alaikum salam" jawab ibu membalas salam ku.
Ku peluk tubuh ibu dan ku cium jemarinya, sejenak teringat akan masa kecil dulu, ketika ibu membelai rambut ku, hingga aku terlelap dalam pangkuannya.
"Apa kabar Ibu, apakah ibu sehat" tanya ku.
"Alhamdulillah Ibu sehat" jawabnya.
Beberapa saat kemudian, bapak muncul dari balik pintu warna biru tua itu. Kuraih dan ku cium tangan bapak sambil bertanya :
"Apa kabar pak, bapak sehat ?"
beliaupun menjawab "Alhamdulillah bapak sehat."
ternyata suara bapak masih lantang seperti dulu.
"Anak ku mana pak" tanyaku lagi.
"Dia masih tidur, apa perlu bapak bangunkan ?" jawab bapak.
"Tidak usah pak, biar saja, kasihan dia" kataku.
Sebenarnya ingin sekali aku segera merangkul tubuh buah hati ku itu, sebab rinduku sungguh tak tertahankan lagi padanya, tapi ku urungkan niat itu, sebab aku kasihan dan tidak mau mengusik nyenyak tidurnya.
Jam menunjukkan pukul 05.30 wita, sang buah hati terbangun dari nyenyak tidurnya, dan memang seperti itulah kebiasaan dia, sebab kata bapak, jam segitu dia akan memberikan makanan pada ayam-ayam kesayangan nya. Tapi pagi itu ayam-ayam kesayangan si buah hati terlupakan, karena terganti oleh kehadiran ku.
"Ayaaaahhhhhhh !!!....kapan sampai !!" teriak anak ku sambil melompat ke dalam pangkuan ku.
Aku menangkap dan menggendong nya sambil berputar-putar bagai baling-baling helikopter yang akan lepas landas.
"hoppp...tadi sayang...jam setengan lima"
Kami pun bercanda sejenak, hingga terlontar sebuah pertanyaan dari bibir mungilnya.
"Ayah, ibu mana...kok ngga' bareng". tanya anak ku.
Aku tersentak, nafasku berhenti sejenak, lidah ku kaku dan hati ku sedikit perih mendapat pertanyaan ini. Sulit rasanya menjelaskan pada mu Nak, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ibu mu itu.
"Ibu kerja sayang, hmmm...sekarang sudah jam 06.00, saatnya mandi, nanti telat lo kesekolahnya" jawab ku sedikit mengalihkan pembicaraan.
"O'ia...mandi dulu ya, yah" jawabnya.
Lima belas menit sebelum pukul 07, anak ku, sang permata hati ku berangkat ke sekolah, setelah terlebih dahulu mencium jemariku.
"Yang pinter ya sayang, jangan nakal" pesanku padanya.
"ya..Yah...Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab ku membalas salam.
Kupandangi langkah buah hati ku itu hingga menghilang di balik pertigaan lampu merah, menuju ke sekolahnya.
Wahai anak ku, permata hati ku, maafkan aku yang telah membohongi mu. Entah kapan aku bisa menjelaskan pada mu secara langsung tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ibu mu itu. Bahwa ibumu telah meninggalkan mu, meninggalkan kita untuk hidup serumah dengan pria lain tanpa ikatan pernikahan. Bahwa ibumu telah jatuh kedalam bujuk rayu seorang pria yang notabene (maaf beribu maaf) tak seiman dengan kita, bahkan konon kabarnya mereka telah bertunangan. Dan Aku telah menggugat cerai ibu mu oleh sebab hal tersebut, dan kami sekarang sedang menunggu proses persidangan.
Maafkan Ayah Nak....ayah tak bisa berkata sebab lidah ayah kaku tuk menjelaskannya secara gamblang pada mu, tetapi beberapa foto ibu mu bersama pria ini mungkin bisa menjelaskan pada mu tentang apa yang sebenarnya terjadi
Itulah kelakuan ibumu saat ini anak ku...
Namun ....Satu pesan ku pada mu Anak ku....tetaplah engkau sayangi ibu mu dan jangan pernah sedikitpun engkau membencinya sebab walau bagaimana pun dia tetaplah ibu mu, ibu yang melahirkan mu. Semoga suatu saat nanti aku bisa menjelaskan secara langsung pada mu anak ku, dan aku berharap semoga engkau bisa mengerti.
Jangan sedih ya nak..jangan pernah meneteskan airmata....baik-baiklah kamu bersama kakek dan nenek, Yang sabar Nak...yang Tabah...Yang Tawakkal....Ayah pasti akan selalu menengokmu jika ada Cuti..
Tegarlah engkau Anak ku !!!
Tegarlah engkau anak ku !!!
Setegar karang !!!
kita hadapi kerasnya hempasan ombak ini berdua, walau dengan linangan air mata, sebab yakinlah akan tiba saat nya kita berdiri TEGAR diatas karang itu !!!
dengan kekuatan cinta kita yang tak kan pernah rapuh oleh ruang dan waktu.
I LOVE YOU MY SON ....I LOVE YOU PUTRA KU.....!!!!!
Depok 19/02/10











