21 May 2013

0 My Rainbow

Rindu ini selalu tumbuh menjalari sekujur tubuh...
bagai Air yg selalu mengalir..
hanya ia yg mengerti
Lalu.....
biarkanlah angin menyapu pasir
membawanya terbang bertemu awan
bersimpuh, menanti kening langit tak berKerut lagi...

Lalu iya kehilangan cahaya Surya,,,,
berganti kelabu beku
sampai kau menangis
berteriak dan menghasilkan petir
DAN......
ketika tangis terasa tak berarti,,
ia datang menghadiahkanMu......
sebuah PELANGI.....



18 May 2013

1 Mengetahui Baik Buruknya Kepemimpinan

Terdapat 4 (empat) ciri-ciri kepemimpinan yang dapat diambil sebagai pegangan untuk mengetahui baik buruknya kepemimpinan yaitu moril, disiplin, jiwa kesatuan dan kecakapan (keterampilan) dari kesatuan atau organisasi yang dipimpin.

a.  Moril

1) Moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang berhubungan dengan tugas dan meliputi kemampuan untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Moril adalah suatu yang subyektif, psikis dan suka ditangkap serta bertalian dengan perasaan-perasaan tentang pekerjaan dan organisasi.

2)     Moril yang tinggi adalah keadaan alam pikiran seseorang  yang membuatnya puas dalam lingkungannya, percaya kepada diri sendiri, kawan-kawan dan pimpinannya serta berkeras hati untuk dapat melaksanakan segala tugasnya seefisien mungkin. Oleh karena itu seseorang yang bermoril tinggi akan mempunyai kepercayaan yang teguh kepada organisasi, pemimpin dan tujuan dari organisasinya.

3)    Dua kesatuan yang sama dalam perlengkapan, sama dalam disiplin dan kepemimpinan yang relatif sama pula, tetapi salah satunya memiliki keunggulan moril terhadap yang lain, maka kesatuan yang memiliki moril yang lebih tinggi biasanya yang memiliki keberhasilan yang tinggi.

4) Ciri-ciri adanya moril yang baik ditandai dengan :

a) Adanya perhatian yang besar.
b) Kegembiraan.
c) Perasaan taat yang mendalam.
d) Sungguh-sungguh melaksanakan kewajiban-kewajiban.
e) Perintah-perintah maupun petunjuk-petunjuk ditaati dengan baik.
f) Kerja sama dengan kegiatan bekerja dengan ikhlas.

5) Ciri-ciri adanya moril rendah menunjukkan :

a) Sikap masa bodoh.
b) Tidak ada sifat berlomba.
c) Rasa tidak adil.
d) Sering terjadi pelanggaran.
e) Kebencian yang aktif dan mendalam terhadap pimpinan.

6)     Moril sebagai keadaan jiwa seseorang dapat mudah berubah-ubah karena pengaruh keadaan yang berlaku dalam organisasi. Dalam hubungan ini yang dapat mempengaruhi keadaan jiwa seseorang itu antara lain adalah :

a) Kepemimpinan.
b) Kepercayaan.
c) Penghargaan atas penyelesaian tugas.
d) Solidaritas rombongan dan kebanggaan terhadap kesatuan.
e) Latihan dan pelajaran.
f) Kesejahteraan dan rekreasi.
g) Kesempatan untuk mengembangkan bakat.
h) Pengaruh-pengaruh.
i) Struktur organisasi.

Untuk dapat memiliki moril yang tinggi, kepemimpinan yang baik dalam hal ini adalah suatu kepemimpinan yang dapat menyatukan kepentingan-kepentingan organisasi dengan kepentingan anggota dengan kata lain adanya keseimbangan yang timbal balik.

b. Disiplin.

1) Disiplin adalah ketaatan dengan tidak ragu-ragu dan tulus ikhlas kepada perintah-perintah atau petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Atasan / Pimpinan / Komandan dengan mempergunakan pikirannya. Disiplin yang baik adalah disiplin yang timbul karena keinsyafan, pengertian yang baik mengenai tujuan dan karena loyal kepada Atasan / Pimpinan / Komandan ataupun tim. Pujian pimpinan kepada anggota bawahannya, baik perorangan ataupun kesatuan terhadap sesuatu tugas yang telah diselesaikan dengan baik dapat memperkuat ikatan disiplin dan memperkokoh kerja sama tim secara lebih lancar dan kompak.

2) Musuh yang terbesar dari disiplin didalam kesatuan atau organisasi adalah ragu-ragu atau rasa takut yang biasanya timbul karena hal-hal yang belum diketahui. Oleh karena itu, penerangan-penerangan yang bersifat pengisian jiwa dan penerangan mengenai segala hal, sehingga tidak ada hal yang tidak mereka ketahui akan merupakan usaha yang baik untuk mengatasi perasaan-perasaan tersebut. Disamping itu dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang kontinue akan tumbuh pula rasa percaya pada dirinya, sehingga rasa ragu-ragu atau rasa takut itu setidaknya akan berkurang.

c. Jiwa kesatuan (corpsgeest).

1) Jiwa kesatuan adalah loyalitas, kebanggaan dan antusias yang tertanam pada anggota terhadap kesatuan atau corpsnya. Apabila moril merupakan jiwa perorangan, maka jiwa kesatuan ini adalah jiwa yang dihasilkan dari kesatuan / corpsnya ataupun badan / organisasi sebagai satu keseluruhan.
2) Moril dan jiwa kesatuan mempunyai pengaruh yang timbal balik. Didalam kesatuan atau organisasi dengan jiwa kesatuan yang tinggi, ketidak puasan perseorangan dari beberapa anggota didalam kesatuan itu dapat padam oleh semangat kesatuan yang ada. Apabila antara Anggota dengan anggota terdapat kerja sama, saling percaya dan perasaan saling terbuka, maka melalui suatu proses tertentu dalam waktu yang relatif lama, moril kesatuan yang baik itu akan dapat menjelma menjadi jiwa kesatuan yang baik pula.
3) Seperti halnya dengan moril atau disiplin, jiwa kesatuan dapat juga naik turun, hal ini tergantung pada pimpinan, keadaan dan moril dari perorangan didalamnya.

d. Kecakapan / ketangkasan.

1) Kecakapan / ketangkasan adalah kepandaian dalam melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dan dapat menyelesaikannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dengan tenaga yang sedikit-dikitnya dan dengan keributan yang sekecil-kecilnya.
2) Apabila moril, disiplin dan jiwa kesatuan adalah berhubungan dengan jiwa perorangan, maka jiwa tersebut harus diisi dan dilengkapi dengan ketangkasan yaitu kecakapan tehnis, kecakapan taktis dan kecakapan fisik, sehingga pada akhirnya kesatuan, badan atau organisasi itu akan menjadi suatu tim yang kompak. Kecakapan / ketangkasan dari kesatuan, badan atau organisasi itu dapat dicapai melalui latihan-latihan, pelajaran-pelajaran, pembagian tugas yang sesuai, penempatan yang tepat dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, apabila ke 4 (empat) ciri-ciri kepemimpinan tersebut adalah moril, disiplin, jiwa kesatuan atau kecakapan/ketangkasan itu dimiliki oleh suatu kesatuan, badan atau organisasi dengan baik, maka niscaya akan dicapai daya  kepemimpinan yang baik.

08 May 2013

1 Pancasila Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

               Indonesia sebagai Negara yang merdeka berlandaskan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945 sebagai pijakan serta filosofi bangsa, sesungguhnya menjamin perlindungan bagi setiap warga Negara didalam segala aspek kehidupannya, inilah yang melandasi kehendak mulai dari para pendiri Republik ini untuk membentuk Indonesia sebagai Negara Kesatuan. Reformasi sejak tahun 1998 bangsa kita mengalami cobaan dan  ujian bertubi-tubi, krisis moneter dan ancaman disintegrasi bangsa sampai saat ini belum dapat diselesaikan dengan tuntas.  Hal ini menimbulkan rasa frustasi dan ketidak percayaan rakyat kepada pemerintah, muncullah aneka ragam bentuk protes baik melalui demontrasi yang anarkis dan membuat parlemen tandingan.  Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia tersebut menggambarkan bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar Negara, jiwa kepribadian bangsa menunjukkan adanya kecenderungan tidak lagi dijadikan pedoman hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kecenderungan tersebut diantaranya  tindakan sadis dan anarkis mewarnai berita-berita media massa baik elektronik maupun cetak, bagaimana seorang ibu membunuh anak kandungnya, seorang ayah memperkosa anak perempuannya, pembantaian, begitu juga kelompok masyarakat bertindak anarkis dalam menyampaikan pendapat, sarana umum hancur, lalu lintas macet, kendaraan dinas maupun pribadi dibakar, para pelakunya bebas tidak dapat hukuman.   Konflik SARA.   Sentimen bernuansa SARA yang diawali kecemburuan sosial telah meracuni landasan persatuan dan kerukunan hidup beragama yang ditanamkan oleh pendahulu kita yang notabene, terdiri atas berbagai suku dan agama, misalnya peristiwa yang pernah terjadi di POSO dan AMBON

Permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia dewasa ini, dengan berbagai kejadian-kejadian yang terjadi di sebagian daerah Indonesia sangatlah bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45 yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat, berbangsa dan bernegara mengingat Pancasila merupakan azas mutlak bagi rakyat Indonesia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Dengan melihat perkembangan kehidupan berbangsa dan bertanah air di Negara kita yang sering terjadi konflik maka menjadi suatu tantangan buat kita untuk bisa menjawab bagaimana penanganan atau pemecahan masalah konflik tersebut dan dalam penangan konflik tersebut berpedoman kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta langkah-langkah apa yang harus dilaksanakan.

Kita ketahui bersama bahwa Negara Indonesia terdiri dari berbagai ragam suku, bahasa, agama, adat istiadat dan banyak lagi, hal itu akan bisa berdampak pada konflik apabila kita tidak memiliki jiwa kesatuan dan pesatuan. Untuk itu didalam menumbuhkan nilai persatuan dan kesatuan maka salah satu langkah pemecahan adalah perlu dihidupkan kembali penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) kepada setiap lapisan masyarakat, karena dengan penataran tersebut secara tidak langsung masyarakat akan memahami tentang dasar falsafah kita dan bagaimana pengaplikasiannya sehingga akan mengurangi konflik-konflik yang terjadi di Negara kita,  seperti halnya kalau kita simak Sila-Sila yang ada pada Pancasila, Sila pertama Pancasila (Ketaqwaan terhadap Tuhan YME) yang mengandung nilai saling menghormati antar sesama penganut agama dan tidak memperuncing perbedaan cara-cara pendekatan diri kepada Tuhan.  

Kalau ini disimak dengan baik dan benar maka kemungkinan konflik yang terjadi di Ambon tidak akan terjadi atau tidak berlarut-larut sehingga tidak akan memakan korban yang sia-sia serta tidak ada kerugian harta benda.  Hal ini tidak akan terjadi apabila kita memahami secara mendalam tentang Pancasila terutama pada Sila pertama.

Pada Sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab) terkandung nilai-nilai kemanusiaan antara lain. (1) Pengakuan terhadap adanya martabat manusia. (2) Perlakuan yang adil terhadap martabat manusia. (3) Pengertian manusia yang beradab memiliki daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan. Sehingga tumbuh nilai saling menyayangi dan mengasihi antar sesama serta menghormati nilai- nilai hidup setiap orang. Dengan memahami nilai-nilai ini maka tidak akan terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia seperti pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan dan lain-lain.

Pada Sila ketiga (Persatuan Indonesia)  terkandung nilai-nilai sebagai berikut. (1) Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. (2) Bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia dan memiliki satu tekad yang sama dalam pencapaian cita-cita. (3) Pengakuan terhadap “Ke-Bhineka Tunggal Ika-an” suku Bangsa (etis) dan kebudayaan Bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah dalam pembinaan kesatuan Bangsa. Dalam pengaplikasiannya sama halnya dengan sila pertama dan kedua, sila ketiga apabila kita memahami dan mecermati serta mengilhami secara benar dan menginginkan persatuan dan persatuan maka konflik di Aceh dan Papua serta Ambon yang ingin memisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak akan terjadi.    

Sedangkan pada Pancasila Sila keempat (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan) terkandung nilai-nilai. (1)  Kedaulatan negara adalah ditangan rakyat. (2) Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang ditempuh melalui jalan musyawarah dengan dilandasi akal sehat. (3) Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. (4) Musyawarah untuk mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat.    Sila keempat ini kalau diaplikasakan oleh segenap lapisan masyarakat dengan setiap permasalahan atau konflik diselesaikan dengan musyawarah maka tidak akan terjadi konflik yang berkepanjangan seperti di Ambon dan Poso.

Pada Sila kelima pada Pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) terkandung nilai-nilai. (1) Perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial atau kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia dengan tidak memandang Suku, Agama, Ras dan golongan. (2) Keadilan dalam kehidupan  sosial terutama meliputi bidang-bidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan dan Pertahanan/ keamanan nasional (Ipoleksosbudhankamnas). (3) Cita-cita masyarakat adil dan makmur material dan spritual yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. (4) Keseimbangan antara hak dan kewajiban dan menghormati hak orang lain.

Dengan memahami bagaimana pengaplikasian dari butir-butir Pancasila yang merupakan sebagai pandangan hidup seperti tersebut diatas, maka bangsa Indonesia akan dapat memandang suatu persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta dapat memecahkan persoalannya dengan tepat.   Tanpa memiliki suatu pandangan hidup, bangsa Indonesia akan merasa terombang ambing dalam menghadapi suatu persoalan besar yang timbul baik persoalan masyarakat itu sendiri maupun persoalan besar umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia.

Pandangan hidup bangsa haruslah berakar pada pandangan hidup masyarakat dengan kata lain bahwa pandangan hidup bangsa harus berakar dari nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat yang menjadi unsur lapisan masyarakat itu.   Setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah di Indonesia pastilah mempunyai ciri kebudayaan dan pandangan hidup masyarakat yang perlu dilindungi, dihormati, serta dimajukan oleh negara.   

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa memperoleh dukungan dari rakyat Indonesia karena sila-sila serta nilai-nilai yang secara keseluruhan merupakan intisari dari nilai-nilai budaya masyarakat yang majemuk. Pancasila memberikan corak yang khas dalam kebudayaan masyarakat, oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan merupakan ciri khas yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

            Realisasi pelaksanaan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, sehingga tertanam nilai-nilai Pancasilais dalam rangka mencegah terjadinya konflik antar suku, agama, dan daerah serta menghindari adanya keinginan pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia maka perlu dilakukan sesara berangsur-angsur kepada lapisan masyarakat tentang pemahaman lebih mendalam mengenai Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45, sehingga akan timbul jiwa persatuan dan kesatuan.  Oleh karena itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia mencantumkan sesanti Bhineka Tunggal Ika pada lambang Negara, Persatuan dan Kesatuan tidak boleh mematikan keanekaragaman dan kemajemukan sebagaimana kemajemukan tidak boleh menjadi faktor pemecah belah, tetapi harus menjadi sumber daya yang kaya untuk memajukan kesatuan dan persatuan itu.

            Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa Pancasila merupakan alat pemersatu Bangsa dari perpecahan, konflik yang terjadi ditengah lapisan masyarakat, dengan jalan setiap masyarakat harus mampu menjiwai secara mendalam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, adapun untuk bisa menggalakkan lagi pemahaman tentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar maka disarankan perlu dihidupkan kembali penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila. 

10 April 2013

23 Kereta Ini Mengingatkanku....


Hari itu aku bahkan tdk tau harus berbuat apa..
Bingung, Sedih, dan gelisah bercampur jadi satu,
Bertanya kesana kemari mencari tau tentang Kota yg kutuju..
Kota yg akan mengantarkanku kepadamu..

Kereta ini mengingatkanku....


Kuseka peluh yg perlahan mengalir dikeningku
bercampur bulir-bulir bening kesedihan serta penat yg tak berasa...
Aku tak peduli pada semuanya....
Yg kuingin segera secepatnya raga ini menghampirimu...

Kereta itu seakan berjalan dibukit berbatu cadas....
Terasa lama dan lamban....
Seakan tidak jua peduli tentang kekhawatiranku kepadamu...
Karena ku tau engkau juga pasti sedang menantiku di Kota itu...

Berdesakan diantara penumpang kereta itu..
Membawaku pada kenangan indah menuju Kotamu...
Melukiskan kenyataan tentang Arti sebuah pengorbanan..

#Seharidikotamu



07 April 2013

5 MENINGKATKAN KUALITAS DISKUSI

     Sebagai insan manusia didalam kehidupan kehidupan sehari-hari tanpa di sadari kita melakukan komunikasi dengan orag lain sehingga terjadi interaksi dan membahas suatu permasalahan yang di maksudkan mencapai suatu keputusan atau kemufakatan bersama atau dengan kata lain ada solusi dari persoalan yang di bicrakan tersebut. 

      Untuk itu Diskusi dapat di definisikan sebagai sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok, berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar yang awalnya disebut topik dan melalui topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman yang diartikan sebagai sebuah proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas, lebih teliti tentang sesuatu atau untuk mempersiapkan dan merampungkan. 

       Diskusi juga dapat di artikan sebagai cara bertukar pikiran antara 2 orang atau lebih mengenai suatu topik tertentu. Yang terjadi dalam suatu diskusi adalah keadaan yang cukup menyenangkan, di mana para peserta mengutarakan pendapatnya masing-masing mengenai suatu subjek tertentu yang sifatnya berbentuk intelektual dan emosi tidak banyak berperan dalam bentuk bertukar pikiran ini, atau sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok dalam proses tukar menukar informasi, pendapat, dan unsur unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas. 

      Didalam dinamika terdapat perdebatan dalam arti positif untuk mempertahankan pendapat masing-masing individu guna pencapaian kesepakatan sebagai hasil diskusi. Atau juga dapat di artikan sebagai suatu kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. atau bisa juga di di sebut dua orang atau lebih yang berbeda pandangan ,dimana antara satu pihak dan pihak yang lain saling menyerang. Oleh karena itu dibutuhkan penilaian dan dialog dari pribadi-pribadi lainnya berkaitan dengan persoalan yang dihadapinya. Proses pemecahan masalah itulah yang kita kenal dengan diskusi. 

    Tujuan dari diskusi itu sendiri adalah untuk menyelami masalah secara lebih baik, hubungannya dengan orang-orang yang terlibat maupun pribadi. Untuk dapat merencanakan tindakan penyelesaian persoalan yang di hadapi. Untuk dapat bertindak bersama-sama sesuai dengan rencana yang telah disepakati. 

     Didalam melaksanakan diskusi kelompok ada dua prinsip dasar yang harus dipahami oleh pemimpin kelompok agar mencapai kualitas diskusi yang baik yaitu berpikir dan bersama. yang dimaksudkan yaitu dalam proses perumusan dan penyelesaian masalah penelaahan dilakukan dengan sungguh-sungguh, menggunakan akal budi dan mengajukan pertanyaan mengenai persoalan itu. Singkat kata : berpikir dalam diskusi kelompok yaitu berpikir secara Realisme. Realisme berarti se-relevan mungkin se-kontekstual mungkin dengan keadaan sebenarnya yang dialami peserta diskusi dengan se-ekspresif mungkin. Tanpa pola pikir yang realis, maka diskusi akan menjadi sempit, tanpa perspektif (kabur). Yang mendorong orang untuk bergabung dalam berpikir adalah usaha untuk mengetahui realistis tidaknya pemikirannya sendiri apabila dikaji dan dibandingkan dengan sesamanya. Hal inilah yang melandasi kata bersama didalam diskusi. 

     Kesimpulan-kesimpulan yang diambil tidak bersifat pribadi tetapi lebih kepada rumusan bersama yang telah di-dialog-kan dengan peserta diskusi. Dan dengan bertemunya pandangan-pandangan ini akan menciptakan pandangan baru yang lebih riil karena lebih luas dasarnya. Didalam teknis men-dialog-kan persoalan yang ada, ada satu sikap mendasar yang perlu yaitu “penghargaan” atas diri dan rekan, atas opini dan kesimpulan. Sikap saling menghargai inilah yang harus ditanamkan oleh pimpinan kelompok.

      Agar kualitas diskusi dapat tecapai maka serang pemimpin diskusi harus melaksanakan teknik-tehnik diskusi, di antaranya :

1.     Bentuk lingkaran atau bentuk U. 

    Teknik ini digunakan untuk menciptakan kondisi informal, kesan rileks, dan peserta saling berhadapan muka. Dengan suasana informil peserta tidak merasa terikat dan kaku sehingga diharapkan dapat terjalin komunikasi yang semaksimal mungkin. 

2.    Bentuk kelas 

      Metode ini dipergunakan ketika peserta diskusi kurang aktif dan terkesan menghindar ketika ditanya pendapatnnya. Pada saat ini pemimpin kelompok harus jeli dan menciptakan kesan formal yang mengkondisikan setiap peserta harus mengemukakan pendapatnya. Pada metode kelas ini peserta tidak saling berhadapan dan peran pimpinan kelompok sangat vital dan cenderung mendominasi terutama dalam menarik kesimpulan dan mengarahkan opini utama, methode ini sebagai penyelesaian pokok permasalahan. 

    Penyelesaian masalah dalam diskusi kelompok hendaknya diselami, dijelaskan dan disetujui oleh kelompok. pemecahan persoalan dikemukakan, pemecahan utama akan tampak dari rangkaian dialog, penyesuaian paham atau mufakat tercapai. 

   Rumusan persoalan yang di kemukakan oleh pimpinan kelompok hendaknya dapat mendorong kebebasan berpikir peserta,menimbulkan pertukaran pikiran dan memancing terjadinya pertukaran pendapat. Rumusan sebaiknya singkat,jelas dan mudah di mengerti.

  Hal-hal pokok tugas pimpinan kelompok diskusi adalah tidak berat sebelah,dapat mengatur pembicaraan,mengerti pendapat yang di kemukakan,membangkitkan keberanian bicara. Teknik-teknik alternatif di dalam pengelolaan kelompok kecil yaitu : 

- Metode perwakilan 
- Metode sandiwara 
- Metode penemuan masalah. 

   Memahami kondisi psikologis dari peserta adalah hal utama disaat dilakukan evaluasi perkembangan dan keterlibatan peserta didalam kelompok, berarti paham akan dunia tiap peserta, kekhususan dan keunikan peserta sehingga kita akan memahami perbedaan pola pikir, gaya bicara dan sikap setiap peserta sehingga dapat di pahami latar belakang peserta dan dapat di jadikan sebagai alternatif untuk melakukan pendekatan secara pasif, Maka dapat dilakukan evaluasi yang meliputi : pengehargaan diri, pengertian, keberanian berbicara, keyakinan diri dan kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain.

  Untuk menjalin kelancaran suatu proses diskusi maka ada beberapa syarat yang harus di patuhi, diantaranya : 

1. Berkomunikasi dalam kelompok dengan catatan : 

a. Tata tertib tidak ketat. 
b. Setiap orang diberi kesempatan berbicara. 
c. Kesediaan untuk berkompromi. 

2. Bagi peserta diskusi : 

a. Pengertian yang menyeluruh tentang pokok pembicaraan. 
b. Sanggup berpikir bebas dan lugas 
c. Pandai mendengar,menjabarkan dan menganalisa. 
d. Mau menerima pendapat atau saran orang lain yang benar. 
e. Pandai bertanya dan menolak secara halus pendapat lain. 

3. Bagi pemimpin diskusi harus 

a. Bersikap hati-hati,cerdas dan tanggap. 
b. Pandai menyimpulkan.
c. Bersikap netral dan tidak memihak.

     Dari ketentuan-ketentuan dan aturan dalam diskusi seperti yang di sebut dia atas bila di patuhi dan di laksanakan maka akan mencapai hasil diskusi yang baik dan semua elemen atau perangkat di dalam diskusi dapat brjalan atau bekerja sesuai dengan fungsinya.  


   

0 MENINGKATKAN KUALITAS KEIMANAN DAN KETAQWAAN



Agama mempunyai peranan penting dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang berakhlak, maju, mandiri dan sejahtera lahir batin dalam suasana kehidupan yang serba selaras dan berkeseimbangan. Sejalan dengan itu, pembangunan agama sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional diarahkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kerukunan kehidupan umat beragama, meningkatkan peran serta umat dalam pembangunan, serta meningkatkan pendidikan agama dan keagamaan pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sarana dan prasarana ibadat berbagai agama terus ditingkatkan baik jumlah maupun kualitasnya. Dalam rangka membina kerukunan hidup antar umat beragama sehingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa yang harmonis, kegiatan musyawarah antar umat beragama terus ditingkatkan. Kegiatan yang dilakukan meliputi antara lain musyawarah antar umat beragama, musyawarah antara umat berbagai agama, dan musyawarah cendekiawan berbagai agama.

Adapun cara meningkatkan kadar keimanan sesuai dengan agama islam adalah sebagai berikut :
          
1.         Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits

            a.         Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya.

          Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing  orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur’an mampu    menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur’an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.

   “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad 38:29) ”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)


            b.         Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha   Agung.Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah. Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).

              c.           Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalaam. Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah. Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalaam dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya : “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab , “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah  Shallahu ‘Alaihi Wasalaam menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasalaam. Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga.

2.     Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma’rifatullah)
Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.

3.         Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas
         Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.

            a.     Amalan Hati

                Dilakukan  melalui  pembersihan  hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu  menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.


            b.   Amalan Lidah
                 Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam dan   sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang   lain   kepada kebaikan, melarang kemungkaran.

            c.    Amalan Anggota Tubuh
                Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).

4.         Adapun sebab-sebab turunnya kadar keimanan :

    Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :
            a.            Kebodohan

           Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat   jahat   boleh   jadi   karena   ia  tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat, atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.


          b.            Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan

          Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana. Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).

         c.            Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa

         Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.


5.         Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :

a.          Syaitan

Syaitan   adalah  musuh  manusia.  Tujuan   syaitan   adalah   untuk   merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.


b.     Bujukan dan rayuan dunia. Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).

         Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah,  bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat.. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.   





 

Gubuk Blekenyek Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates